POJOK PIKNIK

CARI DOLAR

Tips Kece

Nasihat Gokil

From our Blog

Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Wednesday, February 10, 2016

Ayah, Ibu... Jangan Lakukan 4 Hal Ini di Depanku

Seorang ustadz yang komedian, Anwar Zahid namanya, pada sebuah pengajian mengatakan bahwa anak adalah "bayang-bayang" dari orangtuanya. Kalau bayang-bayang itu bengkok, yang mesti dipersalahkan bukanlah bayang-bayangnya, tetapi obyek yang menjadikan bayang-bayang itu ada. Maksudnya, kalau anak berperangai tidak baik, maka pertama-tama yang perlu diluruskan atau diperbaiki adalah orang tuanya.

Singkatnya, tingkah laku adalah cerminan dari perangai ayah ibunya. Karena itu menjadi orangtua dituntut untuk memberikan teladan tingkah laku yang baik di hadapan anak-anaknya. Begitu anak melihat ayah ibunya melakukan tindakan atau sikap tidak baik, dan berulang secara terus-menerus, maka sang anak pun akan menirukannya. 

Beberapa hal yang semestinya tidak dilakukan di hadapan anak adalah sebagai berikut:

1. BERTENGKAR
Dalam kehidupan berumah tangga memang niscaya terjadi salah paham, rasa tidak percaya, dan miskomunikasi. Paling buruk dari keadaan itu adalah pertengkaran, dan itu bisa dikatakan biasa terjadi dalam berkeluarga. Pertengkaran tampaknya menjadi klimaks dari sebuah konflik di antara pasangan, dan hal itu sebenarnya merupakan cara untuk menyampaikan pikiran atau pendapat yang dilakukan secara ekstrem.

Namun jika anak-anak sedang berada di rumah, ketika mereka sedang belajar atau bermain, jangan sekali-kali bertengkar. Dampakanya sangat buruk bagi perkembangan psikologi anak. Sebab di dalam pertengkaran itu tidak hanya saling mengadu amarah, bersamaan dengan itu juga mengeluarkan kata-kata kasar, ancaman dan sebagainya. Bahkan, ada juga yang sampai melakukan tindakan kekerasan fisik terhadap pasangannya.

Kalau andak melihat dan mendengar pertengkaran itu tentu saja menimbulkan efek takut. Secara psikis mereka akan dihadapkan pada rasa tidak percaya akan kasih sayang. Selain itu juga akan menimbulkan kebingungan sikap mereka memihak yang mana. Anak-anak akan mengalami konflik batin seperti itu ketika menyaksikan orangtuanya bertengkar. Hal itu tentu saja mengganggu masa belajar dan bermain anak.

2. BERMESRAAN
Ayah dan ibu memang harus menjaga kemesraan untuk menjaga harmoni di rumah. Namun sebaiknya sebagai orangtua tidak mengumbar kemesraan di hadapan anak. Cukup perlihatkan romantisme yang wajar, misal memeluk atau mencium pipi pasangan ketika berangkat atau pulang kerja. Melihat seperti itu anak akan membangun persepsi baik bahwa orangtuanya selalu rukun.

Lebih dari itu, kemesraan antara ayah dan ibu yang menjurus pada birahi atau hubungan badan janganlah dilakukan di hadapan anak. Ketika sedang berkumpul bersama, sebaiknya suami atau istri tidak menyentuh atau memegang bagian-bagian tubuh yang vital dan sensitif. Akibatnya bisa berabe kalau hal itu ditirukan anak.

3. MENGELUHKAN SOAL UANG
Dalam kehidupan berumah tangga kadang terjadi pailit. Ya, kesulitan ekonomi bisa saja terjadi, misalnya ketika usaha sedang seret, banyak pengeluaran tidak terduga akibat sakit atau musibah lainnya, atau ketika banyak kebutuhan mendadak yang tidak terduga.

Namun sesulit apapun keuangan anda, alangkah baiknya untuk tidak mengeluh di hadapan anak. Hal itu akan membuat anak merasa terancam kebutuhan atau kesenangannya tidak akan terpenuhi. Ketika anak meminta dibelikan sesuatu, cukup beritahu anak-anak bahwa barang yang diinginkannya tidak bisa dibeli seakarang alias harus ditunda, karena uangnya sedang digunakan untuk kebutuhan lain.

4. MEMBICARAKAN KEBURUKAN ORANG LAIN
Meskipun ini tampak sepele, tapi akibatnya bisa sangat mendasar bagi kepribadian anak-anak. Menggunjingkan keburukan orang lain berefek negatif terhadap anak. Anak-anak yang sering mendengar ayah-ibunya menggosipkan kejelekan orang lain bisa saja akan sulit mempercayai orang, sulit membangun sentimen positif terhadap orang lain. Dan akibat yang paling mudah terjadi dari hal ini adalah menirukan hal serupa: anak doyan menggunjing. (rajinpikik.dok)

Friday, February 5, 2016

FOMO Parent, Sindrom Media Sosial yang Membahayakan Anak

Baru-baru ini muncul istilah FOMO Parent. FOMO adalah istilah yang muncul dari jagat media sosial, sejenis istilah KEPO, namun FOMO lebih parah dari itu. Lema FOMO masuk dalam Kamus Oxford pada tahun 2013.

Apa itu FOMO?

FOMO adalah akronim dari Fear of Missing Out. Maksudnya adalah "takut ketinggalan berita", alias "takut kudet (kurang update)".

Di ranah media sosial, FOMO adalah jenis sindrom takut ketinggalan informasi tentang teman-teman di jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Path, Instagram, dsb, juga takut melewatkan trending topic yang sedang dibicarakan orang-orang di media sosial.

FOMO alias takut kuper menyebabkan orang tidak bisa lepas dari gadget. Setiap saat membuka media sosial untuk melihat notifikasi dan melihat timeline teman-temannya.

Bagaimana jika FOMO menjangkiti orang tua, khususnya mereka yang memiliki anak kecil yang masih membutuhkan perhatian ekstra? Di sinilah masalahnya. FOMO bisa dikatakan sebagai kecanduan media sosial secara akut sehingga sulit melepaskan diri dari jejaring linimaya, sekalipun pada waktu yang sama harus mengasuh anak. Akibatnya anak kurang mendapatkan perhatian dan penjagaan.

Tentu saja seorang ibu berhak berhaha-hihi di media sosial. Namun hal itu jangan sampai membuat anak terlantar. Update status, upload foto, atau mengomentari postingan teman bisa dilakukan ketika anak sedang tidur. Jika pun tengak-tengok media sosial itu dilakukan ketika anak terjaga, maka hal itu harus dilakukan seraya mengawasi dan mendampingin anak.

Apalagi bagi orangtua atau wanita karier yang kerja seharian, FOMO adalah hal yang harus dihindari. Setelah seharian bekerja di luar dan tidak bisa mendampingi anak, maka meminimalkan penggunaan gadget ketika di rumah adalah saran wajib. Ingatlah, waktu orang tua yang bekerja untuk berinteraksi dengan anak sungguh terbatas. Akan lebih bermakna jika sepulang kerja kita menggunakan waktu quality time untuk belajar bersama anak-anak daripada isang-iseng di media sosial. (rajinpiknik.dok)



Membangunkan Anak dengan Motivasi, Bukan Ancaman dan Kemarahan

Tubuh manusia, tak kecuali anak-anak, membutuhkan jam istirahat untuk tetap berada kondisi sehat. Tidur adalah salah satu bentuk istirahat paling baik. Namun, saking enaknya tidur, kadang-kadang anak-anak tidak bangun, padahal beragam aktivitas penting harus dilakukan. Telat bangun tidur kerap berujung masalah, seperti terlambat berangkat ke sekolah.
Di situlah peran orang tua harus dijalankan agar anak bisa tidur tepat waktu, juga bangun tepat waktu. Ada beragam cara agar anak tidur tepat waktu. Paling sering dilakukan adalah dengan jam weker. Pilihan lainnya adalah membangunkan anak secara langsung.

Jika anda termasuk yang membangunkan anak secara langsung, gunakanlah cara-cara yang baik. Kasih sayang dan kelemah lembutan akan berefek positif pada aktivitas anak pasca bangun tidur. Anak akan ceria, tersenyum, bersemangat, dan ikhlas beraktivitas. Berbeda ketika anak dibangunkan dengan penuh omelan, apalagi tindakan kasar, maka ketika terbangun anak akan merasa dongkol, protes, marah, dan ogah-ogahan. Sudah bukan zamannya membangunkan anak dengan mengguyurnya dengan air, mengomelinya, atau memarahinya.

Berikut ini beberapa trik yang motivatif dan penuh kasih sayang untuk membangunkan anak.

1. BISIKKAN KATA-KATA MOTIVASI ATAU BIJAK
Anda bisa mengucapkan kata seperti ini:
"Adik, mau lihat matahari tersenyum indah nggak? Bangun Yuuk..."
"Kakak... ayam sudah berkokok dan bernyanyi. Maukah ikut bernyanyi?"

"Nak, lihat tuh ayam-ayam sudah pada bangun, mereka sudah rajin mencari makan. Kakak juga harus rajin dong, bangun, berangkat ke sekolah. Masak kakak kalah sama ayam?"

2. BERITAHU AKTIVITAS MENYENANGKAN YANG HARUS DIA KERJAKAN
"Kakak.. Ikan-ikanmu di akuarium manggil-manggil kakak. Mereka minta makan, kakak bangun dong beri makan mereka..."
"Eh, Kak... Bangun yuk, hari ini kan di sekolah kamu akan outbound bareng teman-teman..."

"Sayang... katanya hari ini mau pergi piknik ke taman. Ayo bangun dong, kalau telat berangkat nanti sudah penuh orang gimana?"

3. BUATKAN MASAKAN KESUKAAN
"Tara... ini apa kak? Nasi goreng kesukaan kakak... Bangun yuk sayang..."
"Pagi-pagi gini enaknya ngapain ya... Oh ya, ayah ada ide, ayah bikin mie goreng spesial. Adik mau nggak bantuin ayah?"


Itu hanya sekelumit cara membangunkan anak dengan baik. Cara-cara lain bisa disesuaikan dengan kondisi, sifat, dan kesukaan anak. Yang terpenting adalah jangan sampai menyakiti fisik dan psikis anak ketika membangunkannya. (rajinpiknik.dok)

Wednesday, February 3, 2016

Suami-Istri Hati-hati saat Berhubungan Intim, Jangan Sampai Dilihat Anak

Alkisah, pada pagi hari, seorang suami membaca koran sambil bernyanyi: “Semalam enak... Semalam enak...”

Sang istri yang sibuk di dapur menyahut, “Nanti malam lagi... Nanti malam lagi...”
Tak disangka, si anak yang sedang siap-siap berangkat sekolah puny ikut menyanyi: “Lama-lama botak... Lama-lama botak...”

Itu adalah kisah anekdot kehidupan keluarga kecil di sebuah rumah kecil. Ketika sang suami dan istri hendak berhubungan badan, sang suami mencabut selembar rambut anaknya yang sudah berbaring di ranjang duluan. Kalau tak ada respon, berarti keadaan aman.

Terlepas dari anekdot itu, mencari waktu dan suasana yang tepat bagi pasangan suami istri yang sedang memiliki anak kecil seperti Balita memang tidak mudah. Masa Balita adalah waktu di mana anak belum mengerti bahwa ayah-ibunya membutuhkan waktu khusus untuk bersama dan melakukan hal yang dia tidak boleh tahu. Sementara, kalau melakukan aktivitas hubungan badan secara sembrono pada saat anak-anak beraktivitas di rumah, tentu akan menjadi masalah jika anak-anak kita melihatnya.

Anak melakukan semua hal yang dilihatnya. Itu adalah hukum umum bagi seorang anak. Anak belum bisa memahami nilai, mana yang baik dan mana yang buruk. Anak kecil cenderung merekam atau mengingat dan meniru apa yang dilihatnya. Kaitannya dengan hubungan seks, maka ini benar-benar akan menjadi masalah jika aktivitas seksual ibu-ayah dilihat anak Balita.

Dalam proses imitasi atau peniruan tindakan, anak sangat mungkin menirukan beberapa adegan seksual dengan bantal atau bonekanya. Itu adalah awal tanda-tanda bahaya yang sangat mungkin terjadi.

Dulu, saya pernah punya pengalaman melihat anak tetangga berusia 2 tahunan, suka menunggangi bantalnya semacam aktivitas seksual manusia yang berpasangan. Bukankah itu membuat risih sekaligus sedih? 

Bahaya tidak berhenti di situ, tetapi lebih dari itu ketika anak berkumpul dengan teman-temannya. Anak memang masanya bermain, dan itu sangat dianjurkan bermain dengan teman-teman untuk bersosialisasi. Nah, permasalahan mungkin saja bisa timbul ketika seorang anak menceritakan aktivitas seksual ayah-ibunya ke teman-temannya. Bagaimana kalau anak-anak penasaran dengan cerita semacam itu. Bukan mustahil mereka mempraktikannya. Itu adalah bayangan terburuk.

Walhasil, sebagai ayah ibu kita harus melakukan hubungan badan secara aman: aman dari jangkauan dan penglihatan anak. Di depan anak, cukuplah kita mengajari berpeluk-cium sekadarnya untuk menanamkan kebiasaan mesra pada anak. (rajinpiknik.dok)

Monday, February 1, 2016

Virus Zika Bangkit Mendunia, Waspada Ibu Hamil dan Anak-anak Rentan Terinfeksi

Baru-baru ini, akhir Januari 2016, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB, menyatakan darurat internasional virus zika. Virus yang diinfeksikan oleh nyamuk Aedes ini minggu lalu menyebar cepat di Amerika.

Negara-negara lain dikhawatirkan terjangkit epidemi serupa. Karena sebenarnya Zika adalah virus yang sudah ada sejak lama. Pertama, WHO merilis sedikitnya dua faktor berkembangnya Virus Zika di kawasan-kawasan negara lain. Epidemi Virus Zika dalam konteks global merupakan hal baru. Sebab itu imunitas seluruh penduduk Amerika ataupun lainnya masih tentang dan kurang pertahanan terhadap virus Zika. Kedua, nyamuk Aedes tersebar luas di semua negara atau daerah, mengingat kondisi iklim, suhu, dan kelembaban di negara-negara tropis. Sekarang ini, perubahan iklim memberikan kekhawatiran semakin berkembangnya nyamuk Aedes.
 

Asal-Usul Virus Zika
Virus Zika pertama kali diidentifikasi di Uganda pada tahun 1947. Meski diisolasi di Hutan Zika, Uganda, virus itu tetap menjadi wabah kecil di sebagian kawasan Afrika, dan juga sporadis di Asia. Pada tahun 2007 dilaporkan epidemi Zika dalam skala besar di Pulau Yap (Mikronesia).

Pada Maret 2014, PAHO/WHO memberitakan bahwa mereka menemukan kasus penularan virus Zika di Pulau Paskah, Chili. Berlanjut kabar pada 2015 penularan virus Zika di Brasil juga dikonfirmasikan oleh otoritas kesehatan setempat. Sejak Oktober 2015, negara-negara di wilayah Amerika melaporkan virus Zika terus bekerja di kawasannya.

Infeksi Virus Zika dan Gejalanya
Infeksi virus Zika disebabkan oleh gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi. Infeksi ini biasanya menyebabkan demam ringan, ruam atau bercak, konjungtivitis atau peradangan selaput mata, dan nyeri otot. Gejala-gejala itu tampak secara umum pada 2-7 hari pasca gigitan nyamuk yang terinveksi.

WHO melaporkan, satu dari empat orang yang terinfeksi Virus Zika mengalami gejala penyakit. Di antara mereka yang terinfeksi, biasanya berdampak ringan dan dapat bertahan 2-7 hari. Namun dalam beberapa kasus infeksi Zika berpotensi fatal. Sejauh ini simpulan medis mengarah bahwa efek terparah dari Virus Zika akan berdampak pada komplikasi neurologis dan autoimun.

Penularan Virus Zika
Gejala Virus Zika mirip dengan demam berdarah (dengue) atau chikungunya. Bedanya, chikungunya menyebabkan demam tinggi dan nyeri sendi lebih intens sehingga mempengaruhi tangan, kaki, lutut, dan punggung yang menyebabkan daya gerak tubuh berkurang signifikan.  Penularannya pun dilakukan oleh nyamuk jenis yang sama, Aedes. Walhasil Virus Zika ditularkan kepada satu manusia ke manusia lainnya melalui gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi.

Penularan dengan cara lain, meski kasus ini tergolong jarang, di antaranya adalah melalui hubungan badan. Selain itu Virus Zika bisa ditularkan oleh seorang ibu kepada janinnya, dan itu bisa menyebabkan mikrosefali pada bayi. Mirosefali adalah kondisi lingkar kepala bayi lebih kecil dari umumnya. Mikrosefali akan menyebabkan pertumbuhan otak yang tidak normal.

Pengobatan dan Pencegahan
Sebagaimana demam berdarah, tes darah dapat membantu untuk mengkonfirmasi diagnosis awal Virus Zika.

Sejauh ini belum ada vaksin atau obat khusus dari Virus Zika. Pengobatan terdiri dari menghilangkan rasa sakit, demam, dan gejala lain yang membuat pasien tidak nyaman. Treatment lainnya adalah mencegah dehidrasi, mengontrol demam, beristirahat yang banyak, dan minum banyak air.

Pencegahan infeksi Virus Zika yang disarankan masih terpaku pada pola konvensional seperti pencegahan demam berdarah. Yaitu mengurangi populasi nyamuk dan menghindari gigitan, khususnya gigitan pada siang hari. Sebagaimana demam berdarah, menghilangkan dan mengendalikan tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes sama halnya mengurangi potensi transmisi Virus Zika.

Di Indonesia, kita memiliki gerakan pencegahan demam berdarah dengan 3 M: menguras, menutup, dan mengubur. Kebiasaan 3 M tersebut relevan untuk digiatkan dalam rangka meminimalkan perkembangbiakan virus zika di lingkungan.

Ibu Hamil dan Anak-anak Rentan Virus Zika
Harian Kompas (27/01) melaporkan, pada kasus terbesar Virus Zika di Brasil, yang mana lebih dari 16.490 orang terjangkit, 1.090 di antaranya adalah perempuan hamil. Kekhawatiran terbesar jika Virus Zika yang menjangkit si ibu kemudian menular ke bayi bisa menyebabkan mikrosefalus.

Di luar data statistik tersebut, pengalaman demam berdarah baik di skala lokal maupun internasional juga relevan dijadikan pelajaran bagaimana mewaspadai epidemi Virus Zika. Anak-anak merupakan kelompok usia yang paling rentan dengan gigitan nyamuk Aedes yang terinfeksi di siang hari. Maka masuk akal untuk memberikan kewaspadaan terhadap anak yang lebih tinggi dibandingkan orang dewasa.

Untuk mengurangi risiko tergigit nyamuk Aedes terinfeksi, cara-cara konvensional tetap bermanfaat. Di antaranya memakaikan pakaian kemeja lengan panjang dan celana panjang pada anak-anak, mengoles kulit mereka dengan lotion antinyamuk, dan tidur di dalam kelambu. (rajinpiknik.dok | diolah dari sumber terpercaya, WHO Internasional [www.who.int])

Saturday, January 30, 2016

Ajari Anak Bercocok Tanam Sejak Usia Dini

Bercocok tanam kedengarannya kuno bagi orang modern. Tapi mau tidak mau kita harus mengakui bahwa kita bisa hidup sampai sekarang karena adanya aktivitas cocok tanam. Entah itu petani yang menanam aneka bahan baku makanan kita sehari-hari, aktivis lingkungan yang menanam pohon, atau orang-orang yang menanam tanaman obat herbal.

Maka mengajari anak bercocok tanam bukanlah hal yang kuno. Justru generasi sekarang harus digiatkan bercocok tanam agar ritme kehidupan di masa depan tetap berjalan.

Tidak sulit mengajari anak bercocok tanam sejak usia dini. Mengapa? Karena anak cenderung mudah dan suka berkotor-kotor. Kata iklan, berani kotor itu baik.

Mengajari anak menanam tanaman-tanaman kecil seperti bunga. Selain bunga, anak juga bisa diajarkan menanam sayur seperti bayam, sawi, atau kangkung. 

Memangnya pekarangan siapa? Tak perlu pekarangan luas untuk sekadar mengajar anak-anak bertanam. Manfaatkan sedikit ruang di teras atau samping rumah yang agak kosong. Media pot atau polibag cukup adaptif untuk disesuaikan di sembarang tempat.

Dengan bercocok tanam, anak bisa membangun sebuah perspektif tentang dirinya dan tumbuhan. Anak jadi tahu bahwa bayam, misalnya, yang dimakan sehari-hari tidaklah keluar dari sebuah mesin. Juga nasi yang dimakan, berasnya ditanam oleh manusia lain. Dengan begitu anak memiliki orientasi pengetahuan alam yang positif. 

Kelak, ketika dewasa, mereka bisa mempercantik tempat tinggal dan lingkungannya dengan rerimbun bunga atau tanaman lainnya. Itu hanya kemungkinan minimal. Selebihnya, memang perlu dicoba. (rajinpiknik.dok)

Friday, January 29, 2016

Sepulang Kerja, Ajak Anak Bercakap

Ketika pulang kerja, tubuh terasa lelah. Namun energi baru selalu tumbuh ketika sesampai di muka pintu kita melihat anak-anak kita sedang ceria.

Ketika sampai di rumah, alangkah lebih baiknya ayah atau ibu menyempatkan bercakap kepada anak-anak, terutama kepada yang balita. Tundalah sejenak aktivitas seperti mandi, bersih-bersih, atau memasak.


Setidaknya, waktu lima atau sepuluh menit, kita bisa mengajukan beberapa pertanyaan untuk merangsang daya bicara, intelegensi, serta ingatan anak.


1.    Hari ini kamu belajar apa?
2.    Tadi siang kamu makan apa?
3.    Apakah kamu sudah merapikan mainan-mainan kamu?
4.    Maukah kamu menyanyikan “topi saya bundar” untukku?


Itu hanya pertanyaan-pertanyaan dasar yang bisa dikembangkan sesuai usia anak.
Dengarkan jawabannya penuh perhatian. Dengarkan ceritanya. Berikan juga irama tepukan ketika dia sedang menyanyi. Terakhir, kita perlu menghadiahi sebuah pujian kepadanya. (rajinpiknik.dok)

Thursday, January 28, 2016

10 Hak Anak yang Wajib Diketahui Orangtua, Berikanlah yang Terbaik

ilustrasi gambar diambil dari www.tribunnews.com
Menjadi orang tua secara alamiah dan naluriah mengerti apa yang dibutuhkan oleh seorang anak di setiap fase perkembangannya. Baik itu perkembangan fisik, psikis, intelektual, ataupun sosial.

Untuk mengingatkan orang tua dan seluruh elemen masyarakat dunia, jauh-jauh waktu PBB dengan Konvensi Hak Anak Tahun 1999, menerbitkan 10 hak dasar anak. Ayo pelajari lagi 10 hak anak ini: 
1. Hak untuk BERMAIN
2. Hak untuk mendapatkan PENDIDIKAN
3. Hak untuk mendapatkan PERLINDUNGAN
4. Hak untuk mendapatkan NAMA (Identitas)
5. Hak untuk mendapatkan status KEBANGSAAN
6. Hak untuk mendapatkan MAKANAN
7. Hak untuk mendapatkan akses KESEHATAN
8. Hak untuk mendapatkan REKREASI
9. Hak untuk mendapatkan KESAMAAN
10. Hak untuk memiliki PERAN dalam PEMBANGUNAN

Semua yang tercantum di atas adalah hak dasar, hak minimal yang dibutuhkan anak. Sebagai orang tua kita harus memberikan yang terbaik pada anak. (rajinpiknik.dok)

Wednesday, January 27, 2016

Sikap Pemalu pada Anak Bukan Kesalahan

Sebagai ibu, mungkin sebagian kita merasa gemas, bahkan khawatir akan perilaku anak yang suka sembunyi di balik kaki atau bokong ketika berjumpa dan hendak dikenalkan dengan orang lain. Itu bisa terjadi di sebuah acara yang ramai, berjumpa orang, atau beramah tamah.

Sifat pemalu anak dalam beberapa hal memang dipandang negatif, khususnya dalam konteks berinteraksi dan bersosialisasi dengan orang lain. Kesulitan bersosialisasi itu lebih jauh akan menghambat anak untuk menyerap informasi dan pengetahuan dari lingkungannya karena ketertutupan diri dan minimnya transparansi.

Tetapi, bagaimanapun bentuknya, dan apapun implikasi negatifnya, sifat pemalu pada anak bukanlah kesalahan. Sifat pemalu adalah kepribadian. Kita bisa memahami sifat itu sebagai ekspresi dari inner character anak. Di sisi lain, sifat malu juga bisa terbentuk dari lingkungan dan cara orang tua memperlakukan anak.

Sebenarnya rasa malu merupakan fitrah manusia, termasuk anak. Rasa malu secara tidak langsung menjadi kontrol tindakan anak. Rasa malu merupakan pengerem watak-watak overacting, beringas, dan bahkan urakan. Begitu, sebenarnya sifat malu itu memiliki sisi positif yang bisa diarahkan menjadi basis kepribadian yang baik.S

Namun ketika rasa malu kemudian mengakar menjadi sebuah sifat dan kepribadian yang justru menghambat perkembangan anak, baik dalam bersosial dan belajar di sekolah, maka hal ini memang perlu diatasi. Kasus anak pemalu merupakan sesuatu yang sensitif. Penanganannya mesti melibatkan empati dan motivasi, dan secara bersamaan meminimalkan pemaksaan, under estimate, dan judgement negatif.

Kita bisa memulainya dengan hal-hal kecil dalam keseharian untuk mengurangi watak pemalu anak agar dia bisa berhasil memasuki dunia hidup bersama atau "live together" bersama orang jamak.

1. TIDAK PERLU MINTA MAAF
Ketika anak menarik diri saat kita hendak mengenalkannya dengan orang lain, tidak perlu mengatakan "maaf, anak saya ini pemalu". Kata "maaf" itu bisa dipersepsikan sebagai sebuah kesalahan bagi anak. Karena dinilai bersalah, maka anak akan terus cenderung menahan diri.

2. AJARI KODE SOSIAL DENGAN BAHASA TUBUH SECUKUPNYA
Anak pemalu pada umumnya sulit berbicara dengan orang lain. Kesulitan ini sebenarnya adalah bagian dari proses beradaptasi, dan menginternalisasi kehadiran orang lain.

Agar anak pemalu tetap bisa bersosialisasi, maka ajari bahasa tubuh yang bisa diterima sebagai kode atau bahasa sosial. Kalau anak anda, sulit menyapa secara lisan ketika bertemu orang lain, cukup arahkan anak untuk melambaikan tangan, atau bahkan mungkin bersalaman.

Anak harus dirangsang untuk memberikan senyum kepada orang yang sedang dihadapi. Selain itu juga memberikan tatapan yang memungkinkan terjadinya kontak mata. Hal itu akan membuat orang lain merasa tidak diabaikan, meski sebenarnya anak anda pemalu, dan bahkan belum bicara sedikitpun.

3. LEPASKAN ANAK DARI CENGKERAMAN
Semakin orang tua overprotective dan mengontrol setiap gerak-gerik anak maka ruang gerak anak menjadi terbatas. Lama-kelamaan anak menjadi takut untuk mengekspresikan diri. Hal itu secara lebih jauh bisa membentuk kepribadian tertutup, selain tidak percaya diri.

4. STOP MEMPERMALUKAN ANAK KARENA KESALAHANNYA
Bisa jadi rasa malu sehingga membentuk pribadi yang menutup diri pada anak itu disebabkan karena rasa traumatik. Pengalaman buruk tentu bisa saja menjadi sebab awal mengapa anak berperangai introvert dan takut bersosialisasi dengan orang lain. Salah satunya adalah trauma atas kesalahan yang pernah dilakukan, berikut rasa malu dipermalukan sebab kesalahan yang diperbuatnya.

Mulai sekarang, hentikan mempermalukan anak ketika melakukan kesalahan. Apalagi mempermalukkannya di hadapan banyak orang. (rajinpiknik.dok | disarikan dari berbagai sumber)

Mengenal Helicopter Parenting, Bahayanya Bagi Anak


Istilah yang cukup baru dalam khazanah pengasuhan anak adalah helicopter parenting. Maksud istilah ini tidak jauh berbeda dengan overparenting atau overprotecting.

Term helicopter parenting pertama kali digunakan oleh Dr. Haim Ginot dalam bukunya yang bertitel Parents & Teenagers. Remaja belasan tahun mengatakan bahwa orang tuanya membawanya seperti helikopter. 

Mirip dengan "lawnmower parenting", "cosseting parent", or "bulldoze parenting", helicopter parenting adalah istilah yang ditujukan untuk gaya parenting orang tua yang sangat terfokus pada anak-anak mereka, mengambil terlalu banyak tanggung jawab anak, mencampuri dan bahkan mengeliminasi pengalaman anak-anak dalam kehidupan sehari-hari.

Orang tua tipe helikopter adalah ayah-ibu yang tidak rela membiarkan anaknya sendirian. Permainan, pelajaran, dan pergaulan anak dikontrol 100%. Orang tua helikopter nyaris tidak memberikan ruang gerak yang bebas bagi anak untuk memilih, mengambil keputusan, bertindak, dan bertanggungjawab atas perbuatannya.

Biasanya alasan yang klise diterapkan bagi orang tua tipe helikopter adalah anak-anak memiliki disiplin yang ketat, belajar giat agar mendapatkan prestasi dan karir yang bagus, dan menuruti jejak orang tua yang sudah sukses. Tapi tanpa disadari hal itu justru menghalangi masa kanan untuk bahagia. Anak kehilangan orientasi untuk melakukan pilihan-pilihan atas situasi yang dihadapinya. 
 Mungkin hal itu berawal dari niat baik sebagai orang tua yang melibatkan diri dalam kehidupan anak. Sayangnya, orang tua tipe helikopter kehilangan perspektif tentang apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh anak dan di mana passion mereka.

Mengasuh anak dengan gaya overparenting, pada suatu kondisi dan titik tertentu, bisa sangat berbahaya. Ketika titik jenuh anak tersentuh, maka akan mulai muncul pemberontakan. Sementara anak yang tidak memiliki keberanian melawan akan cenderung memendamnya dalam depresi. Efek psikologis lainnya dari helicopter parenting adalah membuat anak tidak percaya diri pada pilihannya. Anak tidak berani mengambil keputusan besar dan tidak mandiri. (rajinpiknik.dok)

Stop Obesitas Anak Usia Dini

Komisi Penghentian Obesitas Anak, sebuah komisi resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB, telah merilis  sebuah data yang mengkhawatirkan tentang obesitas anak. Di ranah global, sekarang ini 42 juta anak di bawah 5 tahun mengalami obesitas atau kelebihan berat badan. 

Rilis angka dari WHO itu naik dari 31 juta jika dibandingkan riset sebelumnya pada tahun 1990. Laporan WHO didasarkan pada penelitian di lebih dari 100 negara selama dua tahun terakhir (2013). Faktor biologis, problem akses makanan sehat, penurunan aktivitas fisik di sekolah-sekolah, dan distribusi makanan penggemuk yang tidak memiliki regulasi adalah sederet penyebab mengapa obesitas kini menjadi epidemi global.

Komisi Penghentian Obesitas Anak menjelaskan bahwa obesitas anak adalah mimpi buruk yang meledak di negara berkembang. Dan ledakan ini adalah masalah yang sangat serius. Afrika dan Asia, yang termasuk di dalamnya negara-negara berkembang memiliki tren peningkatan yang tajam dalam jumlah anak kelebihan berat badan.

Salah satu solusinya adalah melalui sekolah. Menurut komisi tersebut, sekolah harus mengampanyekan kepada anak tentang melek nutrisi. Sekolah harus memperbanyak aktivitas fisik bagi anak-anak didiknya. Selain itu juga perlu melarang peradaran minuman manis dan makanan tidak sehat di lingkungan sekolah.

WHO secara resmi mengeluarkan pernyataan bahwa anak berkelebihan berat badan dan obesitas cenderung tetap gemuk hingga dewasa. Kondisi itu memungkinkan terjadinya penyakit tidak menular, seperti diabetes dan penyakit kardiovaskular di usia muda.

Mari menjaga anak-anak kita dari kegemukan dan obesitas. Mengontrol asupan makanan, minuman, dan camilan adalah salah satu cara. Ajak anak-anak melakukan aktivitas fisik yang cukup untuk membakar lemak di tubuhnya. Jangan biarkan kebiasaan anak tidur terlalu lama. (rajinpiknik.dok | disarikan dari www.who.int dan www.parenting.com)

Tuesday, January 26, 2016

Cara Mudah Anak Belajar Shalat, Mengajaknya ke Masjid atau Mushalla

Anak memang tidak berkewajiban sembahyang atau shalat. Tapi orang tua berkewajiban mengajari anak untuk shalat. 

Mengajari anak shalat tentu akan sangat mudah dan baik ketika dilakukan sejak anak berusia dini. Hal itu bisa dilakukan di rumah atau di taman pendidikan agama. Namun, mengajarinya di rumah akan jauh lebih intensif. Ayah dan ibu sebagai orang tua memiliki interval yang sangat sering melakukan shalat sehingga anak bisa belajar secara langsung dan rutin.

Akan lebih menyenangkan jika anak diajak ke masjid atau mushola. Selain melihat orang-orang shalat, yang secara otomatis menuntunnya belajar shalat, juga merangsang anak untuk bersosialisasi. Di musholla terdekat rumah anda tentu ada anak sebaya yang bisa membuat anak betah. 

Memang sih, ada kecenderungan anak akan main-main di mushola ketika orang shalat. Namun itu tidak masalah. Tidak bisa dipungkiri ada beberapa kalangan yang tidak memperkenankan anak untuk dibawa ke mushola atau masjid dengan dalih mengganggu ketenangan beribadah. Pertanyaannya, kapan lagi mengajari anak shalat, sekaligus mengajarinya shalat berjamaah? Kalau anak kecil dilarang ke masjid atau mushola justru ketika besar atau akil-baligh ditakutkan mereka tak pernah mengenal masjid dan sebab itu menjadi susah diajak ke masjid atau mushola.

Di balik beberapa kelemahan anak membuat kegaduhan di mushola atau masjid, tentu saja masih lebih jauh manfaatnya. Anak-anak memang masih masanya bermain. Dan dari bermain itulah mereka sesungguhnya belajar. Ketika di mushalla atau masjid, anak-anak akan berkumpul dengan sebayanya, meskipun sambil bermain sedikit demi sedikit mereka menirukan gerakan-gerakan shalat.

Setelah anak-anak tahu dan bisa mempraktikkan gerakan-gerakan serta urutan shalat barulah kita mengajari bacaan-bacaannya. Tentu saja mulai dari yang ringan, dan bertahap. (rajinpiknik.dok)
 
Copyright © 2013 rajin piknik pangkal sehat
Powered byBlogger